APA ITU ACTIVE LEARNING ?
Memahi Model-Model Active
Learning
Dalam belajar dan pembelajaran tentu
kita mengenal istilah model pembelajaran salah satunya yaitu active learning,
sub bagian ini menarik untuk kami bahas, kami terdiri dari lima mahasiswa
jurusan Administrasi Pendidikan yaitu saya, Alfin Nur Indah, Elsa Nurul H,
Nafiatul M, dan Sari Oktavia tertarik untuk membahas bagaimana konsep,
model-model serta contoh active learning ini.
Berikut adalah uraian pengertian dan model-model Active Learning
A.
Active
Learning
a.
Pengertian
Pembelajaran aktif (active
learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang
dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil
belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki.
Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk
menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
B. Model-model
Active Learning
1. Project-Based
Learning
a. Konsep
Project Based Learning
Project-based learning merupakan sebuah model
pembelajaran yang sudah banyak
dikembangkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Jika diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia, project
based learning bermakna sebagai
pembelajaran berbasis proyek.
Project-based learning adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran
yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan
yang kompleks (Cord, 2001; Thomas, Mergendoller, & Michaelson, 1999; Moss,
Van-Duzer, Carol, 1998). Project-based learning berfokus pada konsep-konsep dan
prinsip-prinsip utama (central) dari suatu disiplin, melibatkan mahasiswa dalam
kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya, memberi peluang
mahasiswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri, dan
puncaknya menghasilkan produk karya mahasiswa bernilai, dan realistik (Okudan.
Gul E. dan Sarah E. Rzasa, 2004).
Berbeda dengan model-model pembelajaran tradisional yang umumnya
bercirikan praktik kelas yang berdurasi pendek, terisolasi/lepaslepas, dan
aktivitas pembelajaran berpusat pada dosen, maka model projectbased learning
lebih menekankan pada kegiatan belajar yang relatif berdurasi panjang,
holistik-interdisipliner, perpusat pada pebelajar, dan terintegrasi dengan
praktik dan isu-isu dunia nyata. Dalam project-based learning mahasiswa belajar
dalam situasi problem yang nyata, yang dapat melahirkan pengetahuan yang
bersifat permanen dan mengorganisir proyek-proyek dalam pembelajaran (Thomas,
2000). Pembelajaran berbasis proyek
adalah suatu pendekatan pendidikan yang efektif yang berfokus pada
kreatifitas berfikir, pemecahan masalah, dan interaksi antara siswa dengan
kawan sebaya mereka untuk menciptakan dan menggunakan pengetahuan baru.
Khususnya ini dilakukan dalam konteks pembelajaran aktif, dialog ilmiah dengan
supervisor yang aktif sebagai peneliti (Berenfeld, 1996; Marchaim 2001; dan
Asan, 2005). Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, project-based learning
merupakan strategi pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan faham
pembelajaran konstruktivis yang menuntut peserta didik menyusun sendiri
pengetahuannya (Doppelt, 2003). Konstruktivisme adalah teori belajar yang
mendapat dukungan luas yang bersandar pada ide bahwa mahasiswa membangun
pengetahuannya sendiri di dalam konteks pengalamannya sendiri (Wilson, 1996).
Pendekatan project-based learning dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan
penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong mahasiswa mengkonstruk
pengetahuan dan keterampilan secara personal.
Buck Institute for Education (1999) menyebutkan bahwa project-based
learning memiliki karakteristik, yaitu: (a) mahasiswa sebagai pembuat
keputusan, dan membuat kerangka kerja, (b) terdapat masalah yang pemecahannya
tidak ditentukan sebelumnya, (c) mahasiswa sebagai perancang proses untuk
mencapai hasil, (d) mahasiswa bertanggungjawab untuk mendapatkan dan mengelola
informasi yang dikumpulkan, (e) melakukan evaluasi secara kontinu, (f)
mahasiswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan, (g) hasil
akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya, dan (h) kelas memiliki atmosfer
yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
Project-based learning memiliki potensi yang besar untuk membuat pengalaman
belajar yang menarik dan bermakna bagi mahasiswa untuk memasuki lapangan kerja.
Menurut Gaer (1998), di dalam project-based learning yang diterapkan untuk
mengembangkan kompetensi setelah mahasiswa bekerja di perusahaan, mahasiswa
menjadi lebih aktif di dalam belajar, dan banyak keterampilan yang berhasil
dibangun dari proyek di dalam kelasnya, seperti keterampilan membangun tim,
membuat keputusan kooperatif, pemecahan masalah kelompok, dan pengelolaan tim.
Keterampilan-keterampilan tersebut besar nilainya ketika sudah memasuki
lingkungan kerja. dan merupakan
keterampilan yang sukar diajarkan melalui pembelajaran tradisional.
b. Landasan
Project Based Learning
Kecenderungan abad XXI
ditandai oleh peningkatan kompleksitas peralatan teknologi, dan munculnya
gerakan restrukturisasi korporatif yang menekankan kombinasi kualitas teknologi
dan manusia, menyebabkan dunia kerja akan memerlukan orang yang dapat mengambil
inisiatif, berpikir kritis, kreatif, dan cakap memecahkan masalah. Hubungan
“manusia-mesin” bukan lagi merupakan
hubungan mekanistik akan tetapi merupakan interaksi komunikatif yang menuntut
kecakapan berpikir tingkat tinggi. Kecenderungan-kecenderungan tersebut mulai
direspon oleh dunia pendidikan di Indonesia, yang semenjak tahun 2000
menerapkan empat pendekatan pendidikan, yakni (1) pendidikan berorientasi
kecakapan hidup (life skills), (2) kurikulum dan pembelajaran berbasis
kompetensi, (3) pembelajaran berbasis produksi, dan (4) pendidikan berbasis
luas (broadbased education). Orientasi baru pendidikan itu berkehendak
menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga pendidikan kecakapan hidup,
dengan pendidikan yang bertujuan mencapai kompetensi (selanjutnya disebut
pembelajaran berbasis kompetensi), dengan proses pembelajaran yang otentik dan
kontekstual yang dapat menghasilkan produk bernilai dan bermakna bagi
mahasiswa, dan pemberian layanan pendidikan berbasis luas melalui berbagai
jalur dan jenjang pendidikan yang fleksibel
multi-entry-multiexit (Depdiknas, dalam Waras, 2007). Pendidikan
berorientasi kecakapan hidup, pembelajaran berbasis kompetensi, dan proses
pembelajaran yang diharapkan menghasilkan produk yang bernilai, menuntut lingkungan belajar yang kaya dan
nyata (rich and natural environment), yang dapat memberikan pengalaman belajar
dimensidimensi kompetensi secara integratif. Lingkungan belajar yang dimaksud
ditandai oleh: 1. Situasi belajar, lingkungan, isi dan tugas-tugas yang relevan,
realistik, otentik, dan menyajikan kompleksitas alami “dunia nyata”; 2.
Sumber-sumber data primer digunakan agar menjamin keotentikan dan kompleksitas
dunia nyata; 3. Mengembangkan kecakapan hidup dan bukan reproduksi pengetahuan;
4. Pengembangan kecakapan ini berada di dalam konteks individual dan melalui
negosiasi sosial, kolaborasi, dan pengalaman; 5. Kompetensi sebelumnya,
keyakinan, dan sikap dipertimbangkan sebagai prasyarat; 6. Keterampilan
pemecahan masalah, berpikir tingkat tinggi, dan pemahaman mendalam ditekankan;
7. Mahasiswa diberi peluang untuk belajar secara apprenticeship di mana
terdapat penambahan kompleksitas tugas, pemerolehan pengetahuan dan
keterampilan; 8. Kompleksitas pengetahuan dicerminkan oleh penekanan belajar
pada keterhubungan konseptual, dan belajar interdisipliner; 9. Belajar
kooperatif dan kolaboratif diutamakan agar dapat mengekspos mahasiswa ke dalam
pandangan-pandangan alternatif; dan 10. Pengukuran adalah otentik dan menjadi
bagian tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran (Simons, dalam Waras, 2007). Memperhatikan karakteristiknya yang
unik dan komprehensif, model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based
Learning) cukup potensial untuk memenuhi tuntutan pembelajaran tersebut. Model
Pembelajaran Berbasis Proyek membantu mahasiswa dalam belajar: (1) pengetahuan
dan keterampilan yang kokoh dan bermakna-guna (meaningful-use) yang dibangun
melalui tugas-tugas dan pekerjaan yang otentik (Cord, 2001; Hung & Wong,
2000; Myers & Botti, 2000; Marzano, 1992); (2) memperluas pengetahuan
melalui keotentikan kegiatan kurikuler yang terdukung oleh proses kegiatan
belajar melakukan perencanaan (designing) atau investigasi yang open-ended,
dengan hasil atau jawaban yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh perspektif
tertentu; dan (3) dalam proses membangun pengetahuan melalui pengalaman dunia
nyata dan negosiasi kognitif antarpersonal yang berlangsung di dalam suasana
kerja kolaboratif.
Contoh
Dalam pembelajaran guru
dan peserta didik dapat bekerja sama mendisain proyek dan menyususn jadwal.
Untuk memandu pelajaran ini guru dapat mendisain instrument-instrumen lembar
kerja peserta didik karena pelaksanaan pembelajaran umumnya dilakukan sebagai tugas
diluar tatap muka kecuali pelaporan hasil poyek. Untuk penilainnya guru harus
menyiapkan instrument penilaian proyek.
2 2. Quantum
Learning
a. Pengertian
Pengertian Quantum Learning Quantum adalah interaksi yang
mengubah energi menjadi cahaya(Miftahul A’la, 2011: 21). MenurutBobbi DePorter
dan Mike Hernacki, berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov. Beliau adalah seorang
pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya
sebagai “suggestology”dan”suggestopedia”. Prinsipnya bahwa sugesti dapat
mempengaruhi hasil belajar, dan setiap detil apapun memberikan sugesti positif
ataupun negatif. Istilah lain yang dapat dipertukarkan dengan
“suggestology”dan”suggestopedia” adalah “pemercepatan belajar” (accelerated
learning). Pemercepatan belajar didefinisikan sebagai ”memungkinkan siswa untuk
belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan
dibarengi kegembiraan”. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas
tampak tidak mempunyai persamaan: hiburan, permainan, warna, cara berfikir
positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional. Namun semua unsur itu
bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif (DePorter
dan Hernacki 2000: 14). DePorter dan
Hernacki (2000: 14) menyebutkan bahwa Quantum Learning sebagai seperangkat
metode dan falsafah belajar yang telah terbukti efektif di sekolah dan bisnis
bekerjauntuk semua type orang, dan segala usia. Quantum Learning pertama kali
di terapkan di Supercamp. Menggunakankurikulum yang secara harmonis dan merupakan
kombinasi dari tiga unsur, ketrampilan akademis, prestasi fisik, dan
ketrampilan hidup. Sedangkan yang mendasarinya adalah filsafat dasar.
Pembelajaran di tempat ini dibuat menyenangkan, karena belajar adalah kegiatan
seumur hidup yang dapat dilakukan dengan menyenangkan dan berhasil. Lingkungan
fisik juga menentukan proses belajar, seperti memperindah taman, seni, musik
dan ruangan harus terasa pas untuk kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa merasa
penting, aman, dan nyaman. Quantum
Learning merupakan gabungan antara sugestologi, teknik pemercepatan belajar,
dan teori NLP serta teori, keyakinan dan metode dari DePorter. Quantum Learning
juga menggunakan konsep-konsep kunci dari berbagi teori dan strategi belajar
lain: 1) Teori otak kanan/kiri, 2) Teori otak triune (3 in 1), 3) Pilihan
modalitas (visual, auditorial, dan kinetik), 4)Teori kecerdasan ganda, 5)
Belajar berdasarkan pengalaman, 6) Belajar dengan simbol (metaphoric learning),
7) Simulasi permainan. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa adalah
seperangkat pembelajaran yang berisi petunjuk, strategi dan proses pembelajaran
yang dibuat menyenangkan dan bermakna sehingga dapat memaksimalkan potensi
siswa.
Contoh
Guru menyajikan media yang berkaitan dengan benda padat,
cair, dan gas, guru memberikan beberapa pertanyaan yang menumbuhkan minat siswa
3 3. Problem
Based Learning
a. Pengertian Problem Based Learning
Metode belajar yang menggunakan masalah
yang komplek dan nyata untuk memicu pembelajaran; sebagai langkah awal dalam
mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru.
b. Tujuan
1)
Mengembangkan keterampilan belajar
mahasiswa melalui masalah/kasus, agar mahasiswa dapat mengumpulkan
fakta-fakta/berbagai informasi yang terkait untuk memperoleh suatu konsep/teori
yang melatarbelakangi masalah
2)
Mengembangkan kemampuan belajar mandiri
pemelajar
3)
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
menganalis, dan menyelesaikan persoalan dunia nyata yang kompleks
4)
Mengembangkan keterampilan bekerja dalam
kelompok
5)
Mengembangkan keterampilan komunikasi
mahasiswa baik verbal maupun tertulis.
6)
Mengembangkan keterampilan menggunakan
content knowledgedan intelectual skill yang diperoleh agar menjadi seorang
continual learner
Contoh
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya melalui, peserta didik
mencatat data hasil penyelidikan kelompok dalam lembar kerja, peserta didik
mengolah data yang diperoleh dari kelompoknya, peserta didik menjawab
pertanyaan pada lembar kerja, peserta didik menyajikan hasil pengolahan data
dalam bentuk.
4. Self Directed Learning
a. Pengertian Self Directed Learning
Menurut Gibbons (2002), self directed learningadalah
peningkatan pengetahuan, keahlian, prestasi, dan mengembangkan diri dimana
individu menggunakan banya metode dalam banyak situasi dalam setiap waktu. Self
directed learningdiperlukan karena dapat memberikan siswa kemampuan untuk
mengerjakan tugas, untuk mengkombinasikan perkembangan kemampuan dengan
perkembangan karakter dan mempersiapkan siswa untuk mempelajari seluruh
kehidupan mereka. Self directed learningmeliputi bagaimana siswa belajar setiap
harinya, bagaimana siswa dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang cepat
berubah, dan bagaimana siswa dapat mengambil inisiatif sendiri ketika suatu
kesempatan tidak terjadi atau tidak muncul.Knowles (dalam Jennings, 1975)
menambahkan bahwa self directed learningadalah sebuah proses dimana sebuah
dimana individu mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dan
proses dalam self-directed learningini dilakukan dengan menyadari kebutuhan
sendiri dalam belajar, mengatur tujuan pribadi, membuat keputusan pada sumber
dan strategi belajar dan menilai hasil.Menurut Long (dalam Bath & Kamath,
2005) self directed learningadalah proses mental yang biasanya disertai dan
didukung dengan aktivitas perilaku yang meliputi identifikasi dan pencarian
informasi. Dalam self directed learning, pelajar secara sengaja menerima
tanggung jawab untuk membuat keputusan tentang tujuan dan usaha mereka sehingga
mereka sendiri yang menjadi agen perubahan dalam belajar.Teori Guglielmino
(dalam Shiong,dkk, 1977)mengemukakan bahwa self directed learningdapat terjadi
dalam banyak situasi yang bervariasi, mulai dari ruangan kelas yang berfokus
pada guru secara langsung (teacher directed)menjadi belajar dengan perencanaan
siswa sendiri (self planned)dan dilakukan sendiri (self conducted).Guglielmino
(1977) lebih lanjut menyatakan tentang karakteristik yang dimiliki oleh
pelajar, yakni sikap, nilai, kepercayaan, dan kemampuan yang akhirnya
menentukan apakah self directed learningterjadi pada suatu situasi belajar.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa self directed learningadalah
peningkatan pengetahuan, keahlian, prestasi, dan pengembangkan diri individu
yang diawali dengan inisiatif sendiri dengan belajar perencanaan belajar
sendiri (self planned)dan dilakukan sendiri (self conducted), menyadari
kebutuhan belajar, tujuan belajar, membuat strategi belajar, menilai hasil
belajar, serta memiliki tanggung jawab sendiri menjadi agen perubahan dalam
belajar.
Contoh
Siswa belajar mandiri, guru senantiasa melakukan self
evaluasi sebagai role model dalam rangka memberikan contoh bagi siswa untuk
memahami kekurangan dan meningkatkan perannya sebagai fasilitator dalam pembelajaran.
5. Contextual Teaching And Learning (CTL)
a. Pengertian
CTL merupakan
strategi yang melibatkan siswa secara penuh
dalam proses pembelajaran. Siswa didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pelajaran yang akan
dipelajarinya. Mulyasa (2009 : 217-218) menyatakan: CTL merupakan konsep yang
menekankan pada keterkaitan antara matari pembelajaran dengan dunia kehidupan
peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan
menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari – hari. Sejalan dengan pengertian tersebut Sanjaya
(2009: 255) menjelaskan bahwa: “CTL adalah strategi pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan
materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata
sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran CTL
yaitu Proses pembelajaran yang melibatkan siswa dalam belajar sehingga siswa
dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan serta keterampilan belajar mereka yang
diperoleh dengan berpengalaman secara langsung sehingga proses belajar akan
lebih efektif dan bermakna, karena belajar di sini bukan hanya menghafal tetapi
memahami.
b. Karakteristik
Model Pembelajaran CTL
Menurut Muslich (2009: 42) berdasarkan pengertian strategi
pembelajaran kontekstual di atas, Pembelajaran dengan strategi kontekstual ini
mempunyai karakteristik yakni sebagai berikut:
1)
Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks
autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan
dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam
lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2)
Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3)
Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan
pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
4)
Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja
kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antar teman (learning in a group). 4
5)
Pembelajaran memberikan kesempatan untuk
menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu
dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
6)
Pembelajaran dilaksanakan secara aktif,
kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry,
to work together).
7)
Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang
menyenangkan (learning as anenjoy activity).
Contoh
Siswa melakukan
observasi disuatu tempat, siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di tempat
tersebut sesuai alat observasi, angket yang telah mereka susun sebelumnya. Di
dalam kelas mereka mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya
masing-masing.siswa melaporkan hasil diskusi.serta saling menbuat dan menjawab
pertanyaan.
6. Model Pembelajaran Cooperative
Learning
a. Pengertian
Cooperative Learning
Sebelum kita
membahas tentang model pembelajaran, terlebih dahulu akan kita kaji apakah yang
dimaksud dengan model? Secara kaffah model dimaknakan sebagai suatu obyek atau
konsep yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu hal.Sesuatu yang nyata
dan dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih konprehensif (Meyer, W.J.,
1985:2). Adapun Soekamto, dkk ( dalam Nurulwati,2000:10 ) mengemukakan maksud
dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur
yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan belajar tertentu,dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran dan para pengajar dalam merancang aktifitaf belajar mengajar.
Cooperative learning berasal dari kata
cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama sama dengan saling membantu
satu sama lainnya sebagai satu kelompok
atau satu tim. Slavin mengemukakan, In cooperative learning methods, student
work together in four member teams to master material initially presented by
the teacher”.Dari uraian tersebut menguraikan metode pembelaja Trianto M.Pd,
Mendesain model pembelajaran inovatif‐progresif,(jakarta:kencana),
21‐22 kooperatif adalah suatu model
pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja pada kelompok kelompok kecil
yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa
lebih bergairah dalam bekerja.Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih
luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk – bentuk yang lebih
dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.Secara umum pembelajaran kooperatif
dianggap lebih diarahkan oleh guru,dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan
pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk
membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud.Guru biasanya
menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.Ada beberapa jenis
pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah:1) kelompok pembelajaran kooperatif
formal (formal cooperative learning group) 2) kelompok pembelajaran kooperatif
informal (informal cooperative learning group), 3) kelompok besar kooperatif
(cooperative base group) dan 4) gabungan dari tiga kelompok kooperative
(integrated use of cooperative learning group).
Contoh

Komentar
Posting Komentar